6.Indikator Moving Average

0
1008

Mulai dari chapter ini Anda akan mempelajari indikator teknikal. Perlu Anda ketahui bahwa indikator teknikal bukanlah alat yang bisa menjadikan Anda seperti cenayang. Indikator teknikal hanya membantu Anda untuk mengenali potensi pergerakan harga.

Kali ini Anda akan mempelajari indikator teknikal yang bernama Moving Average. Moving average (selanjutnya akan kita sebut sebagai MA) merupakan salah satu indikator tren yang cukup populer. Indikator ini “memperhalus” pergerakan harga dalam rentang waktu tertentu, sehingga Anda dipermudah untuk mengenali tren atau arah pergerakan harga secara umum. Mari kita lihat gambar berikut ini.

Gambar 1 Chart Moving average

Gambar di atas adalah Chart saham INDY. Garis berwarna merah yang terlihat grafik tersebut adalah salah satu contoh indikator moving average yang memiliki periode 5(MA 5)dan periode 21 (MA21). Artinya, indikator tersebut mengambil data harga dari 5 dan 21 candlestick terakhir, lalu menggambarkannya sebagai garis yang Anda lihat itu. Standar harga yang digunakan biasanya adalah harga penutupan (close), namun ada beberapa metode yang menggunakan harga open, high, atau low. Namun kita tidak akan membahas hal tersebut kali ini.

Kembali ke gambar di atas, Anda bisa melihat bahwa MA bisa memperlihatkan kepada Anda tren yang sedang berlangsung. Jika harga pada umumnya berada di bawah MA, maka tren saat itu adalah downtrend.

Sebaliknya, jika harga secara umum bergerak di atas MA, maka tren saat itu adalah uptrend. Dari contoh di atas terlihat bahwa trend untuk chart INDY adalah naik (Uptrend). Semakin tinggi kemiringan MA tersebut, maka itu artinya tren yang terjadi semakin kuat. Dengan demikian, Anda bisa lebih mudah memperkirakan potensi arah pergerakan selanjutnya.

MA juga bisa berfungsi sebagai support dan resistance. Istilahnya adalah support dan resistance dinamis (dynamic support and resistance). Dinamakan demikian karena ia bergerak sesuai dengan pergerakan harga.

Pada saat uptrend, MA berfungsi sebagai support. Sebaliknya pada saat downtrend, MA berfungsi sebagai resistance.

Oke, mungkin Anda sudah tidak sabar ingin segera mencicipi resep trading menggunakan MA ini.

Baiklah, kita akan segera melangkah lebih jauh lagi.

Dalam pembelajaran mengenai MA ini, Anda hanya akan membahas dua jenis MA yang populer saja, yaitu:

  1. Simple Moving Average (SMA)
  2. Exponential Moving Average ( EMA)

Anda akan mempelajari dasar-dasarnya dulu, baru nanti Anda akan pelajari strateginya. Oke, ini dia….

Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average (SMA) ini merupakan MA yang paling sederhana. Ya, sesuai dengan namanya: simple. Tapi jangan remehkan kemampuan si SMA yang sederhana ini, karena dengan penggunaan yang tepat ia pun bisa menuntun Anda untuk mengenali pergerakan harga.

Jika Anda menggunakan SMA 5 di chart harian , maka SMA 5 yang Anda lihat adalah hasil dari penjumlahan 5 harga penutupan terakhir, lalu hasil penjumlahan itu dibagi lagi dengan 5. Dari perhitungan itulah Anda bisa memperoleh nilai rata-rata dari harga penutupan dalam 5 hari terakhir.

Sudah dapat gambarannya kan? Oke, kita lanjutkan.

Seperti yang pernah disampaikan, pada prakteknya Anda tidak perlu susah-susah lagi menghitung SMA ini, platform trading yang Anda gunakan sudah menyediakan alatnya. Lho, lalu mengapa repot-repot mempelajari perhitungannya? Tujuannya hanya agar Anda memiliki gambaan mengenai apa sebenarnya SMA ini. Juga agar Anda memiliki dasar jika nanti Anda ingin memodifikasi SMA ini sesuai dengan strategi Anda nantinya.

Seperti yang telah disampaikan di awal tadi: MA “memperhalus” pergerakan harga. Semakin besar periode yang digunakan maka semakin “halus” pula MA yang dihasilkan. Semakin halus MA yang dihasilkan maka akan semakin lambat ia bereaksi terhadap pergerakan harga.

Mari kita lihat perbandingan antara SMA 5 dengan SMA 21 berikut ini.

Gambar 2 Chart Moving average

Nah, kelihatan kan? SMA 5 yang berwarna merah memiliki liukan-liukan yang lebih agresif dibandingkan dengan SMA 21 yang berwarna hijau. Ini menunjukkan bahwa SMA 5 yang memiliki periode lebih pendek lebih cepat bereaksi terhadap pergerakan harga, sedangkan SMA 21 cenderung lebih lambat daripada SMA 5.

Dengan mengamati kedua SMA di atas Anda bisa melihat bahwa pasar tengah dalam keadaan trending. Kedua SMA yang Anda lihat pada grafik di atas menggambarkan arah tren secara umum, yaitu Uptrend.

Pada topik yang lebih lanjut Anda akan mempelajari strategi penggunaan SMA ini, kelemahannya serta cara mengantisipasi kelemahan SMA tersebut.

Exponential Moving Average (EMA)

Perhitungan EMA tidaklah sesederhana SMA. EMA memberikan bobot yang lebih dalam perhitungan harga rata-rata dalam rentang waktu tertentu. Efeknya adalah EMA cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan harga , sehingga EMA bergerak sedikit lebih agresif daripada SMA.

Gambar di atas memperlihatkan SMA dan EMA yang diplot pada grafik yang sama. Periode yang digunakan juga sama-sama 50 namun metode perhitungannya berbeda. MA yang berwarna biru adalah EMA, sedangkan MA yang berwarna merah adalah SMA. Anda bisa melihat bahwa EMA 50 selalu lebih dekat kepada SMA 50. Ini artinya EMA lebih merepresentasikan pergerakan harga (price action) daripada SMA. Dengan kata lain, EMA lebih menggambarkan apa yang terjadi di pasar saat ini.

SMA atau EMA?

Mungkin sekarang Anda akan berteriak, “Jadi yang mana yang harus saya pakai? SMA atau EMA?” Hehe… jangan bingung ya. EMA maupun SMA memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kita bahas satu per satu.

Kalau Anda adalah trader yang agresif dan ingin menggunakan MA yang bereaksi cepat terhadap pergerakan harga, maka EMA merupakan pilihan yang tepat. EMA bisa membantu Anda menangkap peluang lebih cepat dibandingkan SMA. Dengan demikian profit yang bisa Anda dapatkan tentunya akan lebih besar pula. Namun kekurangannya adalah Anda bisa saja terjebak oleh fake signal (sinyal palsu) yang diberikan oleh EMA.

Nah, SMA sendiri adalah kebalikan dari EMA. SMA bereaksi lebih lamban pada pergerakan harga daripada EMA. Dengan demikian, peluang yang diberikan pun akan lebih lambat muncul. Artinya, profit yang dihasilkan pun akan lebih kecil. Namun kemungkinan terjebak oleh fake signal lebih kecil.

Jadi pilih yang mana? Terserah Anda. Ya, benar-benar terserah Anda. Anda sudah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing MA. Pilih yang sesuai dengan karakter Anda.

Ingat selalu kalimat ini:

“JIKA HARGA SECARA UMUM BERGERAK DI ATAS MA, MAKA TREN YANG BERLANGSUNG ADALAH UPTREND. SEBALIKNYA JIKA HARGA SECARA UMUM BERGERAK DI BAWAH MA, MAKA TREN YANG BERLANGSUNG ADALAH DOWNTREND.”

Mudah kan? Inilah prinsip dasar penggunaan MA. Dengan demikian, berhati-hatilah jika harga bergerak menembus MA (terjadi breakout), karena hal tersebut merupakan indikasi awal (bukan kepastian) bahwa tren akan berubah arah.

Ingat juga bahwa pada saat uptrend strategi yang terbaik adalah Buy. Sebaliknya, pada saat downtrend strategi yang terbaik adalah Sell.

Pada saat uptrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk buy. Sebaliknya, pada saat downtrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk melakukan sell. Strategi yang biasanya diterapkan adalah bounce trading.

Mari kita cermati gambar berikut ini:

MA Buy Strategy

Dalam gambar di atas terlihat indikator SMA 50 yang diplot pada grafik 1 jam-an. Terlihat bahwa harga terkoreksi dan mendekati SMA 50 dan memantul. Dengan demikian Anda memperoleh konfirmasi bahwa terjadi pantulan. Level stop loss yang terlihat di gambar adalah exit point berdasarkan support yang terdekat. Level target yang diambil adalah resistance yang terdekat. Perlu diingat bahwa jika Anda akan melakukan buy menggunakan MA, maka pastikan bahwa garis MA sedang menanjak (naik).

Kita lihat apa yang terjadi kemudian.

Ternyata bounce yang terjadi valid dan target Anda tercapai.

Pada strategi sell, yang dilakukan sebenarnya hanya kebalikan dari strategi buy. Ketika harga mengalami pullback ke area MA, yang Anda lakukan adalah menunggu konfirmasi bounce untuk melakukan sell. Perhatikan gambar di bawah ini.

MA Sell Strategy

Contoh di atas juga mempergunakan SMA 50. Yang pertama kali harus Anda perhatikan adalah apakah garis SMA tersebut sedang turun. Ketika harga mengalami pullback ke area SMA, pastikan bahwa kemiringannya SMA tetap ke bawah (turun). Dalam gambar di atas, kita melihat bahwa harga persis menyentuh garis SMA. Memang ada false break, namun segera harga bergerak turun dan bergerak di bawah SMA. Keadaan ini menggambarkan bahwa tekanan bearish lebih besar daripada bullish. Pada saat ini Anda boleh langsung mengambil posisi sell dengan target di support terdekat dan stop loss di resistance terdekat.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Ya… ya… sederhana memang, tapi ingat: tidak selamanya skenarionya seperti ini. Terkadang bounce yang terjadi gagal dan harga malah berbalik dan menembus MA dengan sadisnya. Itulah sebabnya Anda perlu menempatkan stop loss. Nantinya, dengan strategi ditambah manajemen resiko yang baik (akan dipelajari nanti pada level yang lebih tinggi), strategi yang sederhana pun bisa menghasilkan profit yang konsisten.

Nah, ada pengembangan dari penggunaan MA sebagai entry point. Salah satu pengembangan yang populer adalah mengkombinasikan dua buah MA di dalam satu grafik. Kombinasi yang cukup populer adalah kombinasi SMA 20 dan SMA 50. Strategi ini kita sebut sebagai “double MA”.

Double MA Strategy

Idenya adalah memanfaatkan celah yang merupakan area di antara dua MA (apakah nanti Anda akan menggunakan SMA ataupun SMA, sama saja. Hanya saja dalam contoh ini kami menggunakan SMA). Dari gambar di atas Anda bisa melihat bahwa sell dilakukan ketika harga masuk ke dalam area yang dimaksud.

Kalau Anda akan melakukan transaksi dengan strategi double MA maka minimal dua kondisi berikut harus terpenuhi:

  1. Kedua MA harus memiliki arah kemiringan yang sama. Jika akan BUY, maka kemiringan kedua MA harus ke atas (naik). Sebaliknya, jika akan SELL, maka kemiringan kedua MA harus ke bawah (turun).
  2. Harga sudah berada di dalam celah yang merupakan area di antara dua MA.

Contoh di bawah ini adalah menggunakan strategi double MA untuk melakukan Buy.

Double MA Buy Strategy

Oke, Anda sudah tahu bahwa celah MA tersebut bisa Anda manfaatkan untuk entry. Pertanyaannya kemudian adalah: kapan persisnya Anda bisa buy atau sell?

Untuk sementara, Anda gunakan saja dulu area tersebut. Jadi ketika harga masuk dan candlestick ditutup di area tersebut, maka pada saat itulah Anda melakukan transaksi. Nantinya, akan ada alat bantu tambahan yang bisa membantu Anda untuk menentukan timing kapan harus melakukan aksi. Itu akan dipelajari di tingkat yang lebih lanjut. Stay tune!

Double MA Crossover

Perpotongan antara dua MA bisa Anda jadikan sinyal atau indikasi awal bahwa tren akan berubah arah. Hal tersebut juga bisa Anda pergunakan sebagai sinyal untuk entry.

Double MA Crossover Sell

Gambar di atas memperlihatkan SMA yang diplot di grafik 1 jam-an untuk currency pair GBP/USD. Pergerakan dari tanggal 27 Mei 2011 hingga lebih kurang 31 Mei 2011 adalah naik. Sekitar tanggal 1 Juni 2011, terjadi crossover (perpotongan) antara SMA 20 dan SMA 50. Setelah terjadi pullback sedikit, terlihat GBP/USD meluncur turun mulai tanggal 1 Juni 2011 hingga 2 Juni 2011.

Jika Anda melakukan sell ketika kedua SMA itu berpotongan, maka pada tanggal 2 Juni Anda sudah memperoleh setidaknya 100 pips. Yummy!

Kalau buy bagaimana? Sederhana saja, perpotongan dari bawah ke atas merupakan sinyalnya.

Double MA Crossover Buy

Perpotongan dua MA tersebut juga bisa Anda manfaatkan sebagai exit point jika Anda seandainya telah melakukan Buy berdasarkan strategi double MA sebelumnya. Jadi, selain sebagai entry point, perpotongan dua MA juga bisa digunakan sebagai exit point.

Yuk Join ke Grup Telegram baru kami  :

Telegram SahamEdu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.